Academiamu
No Result
View All Result
Selasa, Maret 10, 2026
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
Subscribe
Academiamu
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
No Result
View All Result
Academiamu
No Result
View All Result
Home Info Kampus

Guru Besar IPB University Bahas Isu-Isu Perubahan Ekologi Global

by academiamu
November 24, 2021
in Info Kampus, Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
Guru Besar IPB University Bahas Isu-Isu Perubahan Ekologi Global
158
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Salah satu isu penting yang selalu dibahas oleh para pemimpin dunia dalam COP (Conference of the Parties) tentang perubahan ekologi global adalah LULUCF (land use, land-use change and forestry). Menurut Prof Arya Hadi Darmawan, konsep LULUCF memiliki kontribusi penting pada perubahan iklim global. Yakni melalui sumbangannya terhadap emisi karbon, green-house gases di atmosfer serta kemampuannya mendorong perubahan ekosistem terrestrial kawasan. 

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap yang digelar pekan lalu, Prof Arya mengatakan bahwa problem klasik kompetisi pengunaan lawasan atau lahan adalah perubahan penggunaan lahan, degradasi lahan dan deforestasi. Sepanjang kita perlu makan, proses deforestasi dan degradasi lahan di seluruh pelosok bumi tidak akan terelakkan.

RelatedPosts

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 3

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 2

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 1

“Luas deforestasi dunia dan Indonesia menunjukkan angka yang tetap membawa concern dan perhatian serius,” ujar Dosen IPB University dari Fakultas Ekologi Manusia (Fema) ini. 
Menurutnya, hal ini dikarenakan luas konversi lahan dan deforestasi diikuti oleh annual forest expansion yang luas cakupannya belum memadai. Terlebih bila dibandingkan dengan kecepatan ekspansi kawasan perkebunan seperti kelapa sawit yang menyebabkan perubahan struktur sebuah kawasan atau landscape. 

“Kajian kami di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa perubahan kawasan yang didorong oleh perluasan perkebunan sawit berlangsung signifikan, ditandai oleh berkurangnya luas kawasan berhutan (forested area),” tuturnya. 

Ia menambahkan bahwa ada dua pola ekspansi yang melibatkan aktor dominan yang berbeda dalam proses perubahan kawasan. Tipe pertama adalah spotted expansion yang lebih banyak dilakukan oleh smallholders dengan kekuatan sendiri. 
Sementara itu, lanjutnya, tipe kedua adalah concentrated expansion yang dihela oleh dua aktor yang berhubungan secara langsung ataupun tidak langsung, yaitu smallholders dan large scale company. 

“Setiap pola ekspansi menghasilkan perubahan organisasi dan relasi sosial produksi, sistem nafkah rumah tangga petani, hingga konfigurasi sosio-demografi penduduk di desa-desa sekitar yang khas,” imbuhnya. 

Menurutnya, aktivitas perkebunan kelapa sawit menjadi faktor pendorong transformasi struktur nafkah di pedesaan. Ini terlihat dari ragam sumbernya, dari ketergantungan yang tinggi terhadap hutan (ekstraksi sumber daya alam) dan/atau tanaman pangan, ke sumber pendapatan baru berbasis uang tunai (termasuk jasa, industri dan perdagangan). 

“Ekspansi perkebunan kelapa sawit juga mendorong terjadinya perubahan relasi gender di pedesaan. Menurut Julia and White, ditemukan fakta bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit skala besar memberikan daya tarik pendapatan tunai reguler bagi rumah tangga di pedesaan. Namun pada saat yang sama menghilangkan penguasaan sumberdaya dan otonomi. Konsekuensi lainnya adalah bertambahnya beban kerja kerja bagi perempuan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ekspansi perkebunan yang memicu perubahan kawasan juga menghadirkan masalah tumpang tindih penguasaan lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini semakin memperdalam konflik antara ekonomi versus ekologi di Indonesia. 

“Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden no 44/2020 tentang sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan dengan instrumen tata-kelola bernama sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Namun implementasinya tetap menghadapi sejumlah persoalan. Terutama terkait tidak sederhananya tantangan yang dihadapi oleh multi-level governance system dari arah pusat, provinsi, kabupaten hingga desa,” tuturnya. 

Prof Arya menambahkan bahwa kendala-kendala internal ini mendorong fenomena decoupling antara policy dan practice. Selain itu ada faktor eksternal, dimana pasar internasional merespons negatif niat baik pemerintah Indonesia dan semua pihak terkait yang berjuang keras memperbaiki status perkebunan sawit di dalam negeri. 

“Negara-negara asing terutama Eropa (Uni Eropa) masih belum puas, terutama dari pemenuhan standar keberlanjutan. Mereka masih mempertanyakan tentang High Conservation Value, pola budidaya pertanian yang monokultur berskala besar, dan konflik lahan akibat tumpang tindih klaim dengan masyarakat adat. Sejauh ini tensi politik ekologi antara Uni Eropa versus Indonesia tetap tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, Indonesia bertahan dengan resistensi politik dan hukum serta klaim tentang proteksi serta diskriminasi perdagangan. 
“Sejauh ini tensi politik tetap tinggi dan hubungan politik ekonomi sawit antara kedua wilayah tidak sederhana dan masih penuh tantangan. Ke depan Indonesia dan Uni Eropa didorong untuk mengembangkan dialog ploitik daripada politik resistensi antar dua wilayah,” pungkasnya. (Zul, IPB)

Baca Juga : Menjaga Jantung Sejak Dini

Tags: IPB

Discussion about this post

ADVERTISEMENT
Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN

Popular News

  • Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    1265 shares
    Share 506 Tweet 316
  • Prof. Dr. Muji Setiyo, S.T., M.T Guru Besar Termuda di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

    458 shares
    Share 183 Tweet 115
  • Peran Statistika Dalam Era Digital

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Dirjen Pendidikan Tinggi : Mahasiswa Kembali Beraktivitas di Kampus

    303 shares
    Share 121 Tweet 76
  • WANITA BERKERUDUNG ITU PENDIRI UNIVERSITAS PERTAMA DI DUNIA

    284 shares
    Share 114 Tweet 71

Recent News

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 1

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 3

Februari 18, 2026
PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 1

PENERAPAN PERDANA KHGT: UJIAN TERHADAP IKHTIAR Bagian 2

Februari 18, 2026

Kategori

  • Advetorial
  • blog
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh

Site Navigation

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

ACADEMIAMU

“Berita Academia Nomor Satu Di Indonesia.”

 

“The greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things.”

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif

No Result
View All Result
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Homepage
    • Beranda
    • Advetorial
    • Info Kampus
    • Inspirasi
    • Internasionalnews
    • Opini
    • Sainstekno
    • Sosok
    • Tokoh

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif