Bagian 1: Melihat dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu
A. Prolog
Penetapan awal Ramadhan dengan menggunakan KHGT tahun ini adalah ujian terberat yang akan dicatat oleh KHGT. Untungnya, warga Persyarikatan dengan etos dan kepercayaannya yang kuat terhadap putusan para ulama tarjih dan pimpinan dapat menjalani dengan baik. Tarawih sudah dilaksanakan dengan bersemangat oleh warga, meski mungkin dibandingkan dengan kuantitas yang belum melaksanakan tarawih prosentasenya sedikit.
Tetapi, ini lebih merupakan keyakinan berdasar visi tajdid untuk kepentingan cita-cita besar: kalender Hijriyah tunggal untuk umat Islam sedunia yang bisa diandalkan. Ini sebuah pilihan untuk menjalankan hasil konferensi internasional para ahli falak dari berbagai penjuru dunia yang telah merumuskan KHGT pada tahun 2016.
Yang terpenting, pelaksanaan KHGT kali ini dilakukan dengan mempertahankan prinsip “Pertimbangan obyektif ilmu” di atas pertimbangan praktis keinginan untuk ramadhan bersama. Itulah pilihan para pimpinan dan ulama Persyarikatan ketika dalam proses pembuatan aplikasi KHGT menyadari implementasi awal KHGT akan berbeda dengan kriteria lain.
B. Dunia Eksplanasi
Jauh-jauh hari, para ahli filsafat ilmu, seperti Wilhelm Dilthey, membagi dunia ilmu ke dalam dua rumpun berbeda: rumpun ilmu alam dan rumpun ilmu manusia (meski sekarang rumpun ilmu menjadi lebih kompleks). Ilmu alam didasarkan obyek yang teratur (nomotetis) yang bisa diprediksi sehingga tugas ilmuwan adalah menjelaskan (eksplanasi).
Ilmu manusia bersifat unik (ideografis) karena tindakan manusia didasarkan berbagai nilai, motif, dan variabel lain sehingga tidak ada keteraturan universal. Tugas ilmuwan adalah memahami (verstehen).
Peredaran rembulan dan matahari adalah fenomena alam yang teratur dan bisa diandalkan (reliabel) sehingga Ia dapat diprediksi. Contohnya adalah konjungsi (posisi sejajar bumi-bulan-matahari) yang menandai akhir siklus bulan lama dan awal siklus bulan baru. Konjungsi (ijtima’) yang sempurna terwujud dalam gerhana. Secara alami itulah penanda paling teratur dan bisa diandalkan bagi pergantian bulan Qamariyah.
Karena itu, muncul ilmu hisab yang bisa melakukan perhitungan dan prediksi untuk pembuatan kalender Hijriyah, bahkan hingga ratusan tahun. Muhammad Mukhtar Pasha dari Mesir, pada tahun 1311 H/ 1893-4 M bahkan sudah bisa memprediksi bahwa awal Ramadhan tahun 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari 2026 berdasarkan hisab yang ia kerjakan.
Hal ini sejalan dengan informasi Alquran, yang qath’i, baik secara tsubut (riwayat) maupun dalalah (petunjuk). Menurut Alquran matahari dan rembulan beredar menurut perhitungan (ar Rahman 5). Matahari bergerak menurut tempat peredarannya (Yasin 38), bulan pun demikian, sehingga matahari tidak akan mengejar rembulan dan siang tidak akan mengejar malam karena ada orbit tetap masing-masing (Yasin 40). Matahari dan bulan punya manzilah atau fase perjalanan sebagai dasar bilangan tahun dan waktu (Yunus 5).
Ayat-ayat di atas sangat kuat dan pasti petunjuknya (qath’i) tanpa ada perbedaan pendapat. Berdasarkan keteraturan itulah disusun ilmu hisab, yang saat ini sudah sangat canggih karena telah diverifikasi dengan berbagai hasil observasi ilmiah. Oleh karena itu, sebagian ulama seperti Qadli Taqi al-Din al-Subki al-Syafi’i menyatakan bahwa hisab bisa menolak rukyat karena hisab bersifat qath’i (pasti), sedang rukyat bersifat dzanni (persangkaan). Yang qath’i lebih kuat dibandingkan yang dzanni.
Oleh: Ahwan Fanani, Guru Besar UIN Walisongo Semarang/ Wakil Ketua MTT PWM Jawa Tengah



Discussion about this post