Video pemadaman kebakaran hutan yang diunggah akun Instagram Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan menunjukkan api masih membara di bawah tanah. Dalam video yang diunggah pada Rabu (28/10/2026) itu, asap tebal masih membumbung dari dalam tanah manakala pemadam kebakaran tengah berjibaku memadamkan api.
“Semburan asap panas yang keluar dari dalam tanah menjadi pertanda bahwa bara api masih bertahan di bawah permukaan,” tulis keterangan dalam video itu. Kondisi ini disinyalir membuat pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Pulau Kalimantan berjalan lamban.
Dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Santhyami, S.Si., M.Si., menjelaskan fenomena tersebut dapat terjadi pada kebakaran di lahan gambut. Fenomena ini terjadi akibat tanah gambut masih menyimpan panas setelah kebakaran dipadamkan. Istilahnya smouldering combustion, yaitu pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas.
“Api dapat membakar bahan organik di bawah permukaan tanah, bukan hanya vegetasi yang terlihat di permukaan,” ujar dosen yang akrab disapa Santhy ini, Sabtu (31/10/2026).
Ada tiga faktor penyebab kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan. Pertama, api berada di bawah permukaan sehingga tidak selalu terlihat oleh petugas. Kedua, lapisan gambut yang tebal dapat menjadi tempat berlangsungnya pembakaran dalam waktu lama.
Faktor ketiga adalah panas yang tersimpan pada bagian gambut yang membara dapat terus memicu pembakaran bahan organik di sekitarnya selama masih tersedia bahan bakar dan kondisi yang mendukung. “Air yang disiramkan ke permukaan juga belum tentu mencapai titik panas di lapisan yang lebih dalam,” tegasnya.
Apa Itu Lahan Gambut?
Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik sisa-sisa tumbuhan yang mengalami dekomposisi tidak sempurna dalam kondisi lingkungan sangat basah dan minim oksigen. Bahan organik tersebut terdiri dari ranting, batang, dahan, daun, maupun sisa akar tumbuhan.
Pembentukan tanah gambut berlangsung dalam jangka panjang, mulai dari ratusan hingga ribuan tahun. Bahkan dapat lebih lama, tergantung pada kondisi lingkungan dan laju akumulasi bahan organik.
“Gambut bukan sekadar tanah yang basah, melainkan hasil proses ekologis dan biogeokimia yang menyebabkan bahan organik terakumulasi menjadi lapisan tebal,” kata Santhy.
Lahan gambut di Indonesia banyak dijumpai di wilayah khatulistiwa yang memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun dan tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Luas lahan gambut mencapai 13,4 juta hingga 24,6 juta hektar. Menjadikan Indonesia negara dengan gambut tropis terbesar di dunia.
Beda Tanah Gambut dengan Tanah Biasa
Tanah gambut memiliki sejumlah perbedaan dengan tanah mineral atau tanah biasa. Jika tanah gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna, tanah biasa terbentuk melalui proses pelapukan batuan melalui proses kimia maupun fisik.
“Meskipun tanah mineral juga mengandung bahan organik, bahan penyusun utamanya adalah partikel mineral,” beber Santhy.
Dari segi fisik, tanah gambut umumnya berwarna cokelat tua hingga hitam, memiliki kandungan bahan organik dan kadar air yang tinggi. Teksturnya dapat terasa ringan, berserat, atau menyerupai sisa tumbuhan yang telah lapuk.
Sementara tanah mineral lebih beragam, tergantung pada komposisi mineral, kandungan bahan organik, dan tingkat pelapukannya. Tanah mineral dapat berwarna merah, kuning, coklat, atau hitam, dengan tekstur dari berpasir hingga liat.
Tanah gambut tropis memiliki sifat kimia asam dengan ketersediaan unsur hara terbatas. Pada tanah mineral, kesuburan sangat bergantung pada jenis mineral, kandungan bahan organik, pH, serta pengelolaan tanah. Oleh karena itu, tanah gambut dan tanah mineral memiliki potensi pemanfaatan yang berbeda.
“Tingginya kandungan bahan organik tidak selalu berarti unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup bagi tanaman,” katanya.

6 Ciri Ekosistem Gambut
Santhyami menyebut lahan gambut memiliki enam ciri-ciri, yakni:
1. Tanahnya kaya bahan organik
Lahan organik memiliki akumulasi bahan organik hingga kedalaman beberapa meter, tergantung pada kondisi dan sejarah pembentukannya.
2. Lahan gambut kaya dengan air
Lahan gambut ibarat spons raksasa yang mampu menyerap air 100 persen hingga 1.300 persen dari bobot keringnya. Ini disebabkan tanah gambut memiliki tingkat porositas (berongga) sebesar 70-90 persen.
Air berperan penting dalam membatasi masuknya oksigen ke lapisan gambut dan memperlambat penguraian bahan organik. Ketika tata air terganggu, misalnya akibat pembuatan kanal drainase, gambut dapat mengering dan mengalami perubahan sifat fisik maupun kimia.
3. Vegetasi lahan gambut memiliki karakteristik khusus
Ekosistem gambut di Indonesia banyak dijumpai dalam bentuk hutan rawa gambut yang ditumbuhi beragam jenis pohon, semak, hingga tumbuhan bawah. Misalnya jelutung rawa, ramin, punak, meranti rawa, balangeran, hingga geronggang.
4. Ekosistem gambut tanahnya asam dan miskin unsur hara
Lahan gambut biasanya memiliki kandungan asam yang cukup tinggi dengan pH kurang dari 4 dan miskin unsur hara. Kendati demikian, tingkat keasaman dan kesuburannya tidak seragam di semua lokasi.
5. Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Karbon yang diserap tumbuhan melalui fotosintesis sebagian tersimpan dalam biomassa dan sebagian lainnya terakumulasi dalam lapisan gambut. Tanah gambut dapat menyimpan karbon sebesar 18-60 persen dari bobot keringnya. Cadangan karbon ini dapat bertahan dalam waktu yang sangat panjang apabila ekosistem gambut tetap terjaga. Sebaliknya, pengeringan dan kebakaran dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer.
6. Lahan gambut rentan terbakar ketika mengering.
Berbeda dengan kebakaran yang hanya membakar vegetasi di permukaan, api pada lahan gambut dapat menjalar ke lapisan organik di bawah permukaan tanah. Kebakaran bawah permukaan ini sulit dideteksi dan dipadamkan, serta dapat menghasilkan asap dalam waktu lama. Oleh karena itu, menjaga hidrologi gambut dan kestabilan muka air merupakan langkah penting dalam pencegahan karhutla.
Apakah Lahan Gambut Bisa untuk Pertanian?
Lahan gambut di Indonesia menghadapi sejumlah persoalan pelik. Salah satunya adalah alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit.
Catatan dari Pantau Gambut bahkan menyebut pengembangan Mega Rice Project di Kalimantan Tengah mengalihfungsikan lahan gambut seluas hingga 1.457.100 hektare untuk menjadi hamparan sawah.
Santhyami menyebut lahan gambut kurang cocok untuk dijadikan lahan pertanian. “Pemanfaatannya perlu mempertimbangkan karakteristik ekologis serta kondisi hidrologinya,” ungkapnya.
Dari segi kondisi air, lahan gambut yang terlalu basah dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang akarnya membutuhkan oksigen. Pada kasus pengembangan kebun kelapa sawit, tanah gambut harus dikeringkan terlebih dahulu. Caranya dengan membangun kanal untuk mengumpulkan air tanah gambut.
Pembangunan kanal ini membuat lahan gambut mengering dan turun beberapa meter. Akibatnya lahan gambut dapat teroksidasi, menyusut, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di musim kemarau.
Lahan Gambut Harus Direstorasi
Karhutla yang terjadi sepanjang Juli-Oktober 2026 lalu telah membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menggalakan restorasi lahan gambut. Santhyami menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan lahan gambut yang telah terbakar sangat bervariasi, tergantung pada tingkat kerusakan, kedalaman lapisan lahan gambut yang terbakar, kondisi air, serta kemampuan vegetasi untuk tumbuh kembali.
“Pemulihan awal dapat terlihat dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun, tetapi pemulihan fungsi ekologisnya dapat membutuhkan puluhan tahun atau lebih,” kata dia. Jika lapisan gambut terbakar sangat dalam, permukaan tanah mengalami penurunan, atau kawasan terus mengalami pengeringan, pemulihannya dapat jauh lebih sulit.
Dalam jangka pendek, pemadaman kebakaran di lahan gambut perlu dilakukan dengan pendekatan khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan tetap membara meskipun nyala api di permukaan sudah padam. Kunci utamanya adalah memadamkan api sekaligus mendinginkan lapisan gambut yang terbakar, bukan hanya menghilangkan asap atau nyala api yang terlihat.
Langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan mendeteksi dan memantau titik panas menggunakan kamera termal atau alat pengukur suhu untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa setelah pemadaman. Pemulihan lahan gambut juga harus diikuti dengan upaya menjaga kelembapan gambut, antara lain melalui pengaturan aliran air atau penyekatan kanal yang sesuai kondisi lapangan, untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Santhyami juga mendorong penyekatan sementara pada kanal agar dapat digunakan untuk meningkatkan ketinggian air di kanal sehingga memudahkan pengambilan air atau mendukung pembasahan lahan di sekitarnya. “Efektivitasnya langkah ini akan bergantung pada posisi kanal, elevasi lahan, dan kedalaman bara,” tandasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Sumber : Universitas Muhammadiyah Surakarta



Discussion about this post