Bagian 3: Awal Paling Berat
D. Ganjalan yang Keras di Depan
Alkisah, sebelum terjadi perang badar, kelompok-kolompok di Madinah sudah menyusun Piagam Madinah bersama Rasulullah, untuk saling membantu andai ada tantangan dari luar. Namun, saat umat Islam hendaklah diserang orang-orang Makkah, ada fenomena menarik. Awalnya banyak yang menyatakan ikut membela umat Islam hingga terkumpul 1000 an orang. Sayangnya, ketika persiapan perang dimulai 700-an orang lari dari medan perang bunga tertinggal 300-an orang.
Tantangan demikian biasa terjadi dalam memulai suatu hal. Permulaan KHGT pun demikian. Saat ratusan ilmuwan dari puluhan negara Islam berkumpul, timbullah semangat untuk menyusun kriteria kalender global bersama. Namun setelah selesai, tidak banyak yang benar-benar ingin melaksanakan hasil konferensi Turki. Ada beberapa tantangan memang bagi implementasi KHGT. Implementasi tahun ini menghadapi tantangan terberatnya.
Tantangan pertama, belum banyak negara yang bersedia untuk segera melaksanakan KHGT meski mengutus utusan untuk Konferensi ke Turki tahun 2016. Hal itu terjadi karena banyak faktor, seperti kompleksitas otoritas keagamaan dalam negeri, pemahaman yang belum sama tentang KHGT, atau karena faktor lain.
Tantangan kedua, Turki sebagai penyelenggara Konferensi Tahun 2016, ternyata masih mengalami keraguan dalam detail aplikasi. Terlebih, penerapan KHGT tahun ini harus menghadapi beberapa kenyataan yang rumit. Pertama, kriteria tinggi hilal KHGT baru terpenuhi di ujung Barat-Utara (Barat Laut) dunia yang sedikit dihuni manusia, yaitu Alaska sehingga muncul keraguan untuk menerima konsekuensi parameter KHGT karena alasan jumlah penduduk Alaska.
Kedua, Diyanet Turki awalnya menyatakan menggunakan landasan geosentris dalam perhitungannya, namun pada prakteknya ia menggunakan landasan toposentris. Saat diklarifikasi oleh Majelis Tarjih, Diyanet tidak ingin merevisi keputusannya tersebut dan justru menghapus keterangan geosentrisnya.
Sikap Diyanet Turki tersebut menjadi ujian terberat pelaksanaan KHGT bagi Persyarikatan karena hasil penentuan awal Ramadhan versi KHGT Indonesia berbeda dengan versi KHGT Turki. Akibatnya, KHGT yang diharapkan menjadi alat pemersatu, masih menimbulkan perbedaan di kalangan penggunanya.
Sebagai kriteria baru, persoalan teknis dalam pelaksanaan adalah hal wajar. Tantangan bagi Majelis Tarjih adalah membuka kran komunikasi untuk menghilangkan perbedaan pemahaman detail mengenai KHGT antar negara penggunanya.
Tantangan ketiga, pada awal pelaksanaan KHGT di Indonesia saat ini, hilal berada di bawah ufuk di wilayah Indonesia pada tanggal 17 Februari. Tinggi Hilal sesuai kriteria KHGT (3 derajat dengan elongasi 8 derajat) terbentuk atau muncul di Alaska, bukan di Indonesia. Otomatis banyak warga awam setuju dengan istikmal (menggenapkan bulan Sya’ban 30 hari).
Muncullah pertanyaan dan keheranan: “Bagaimana hilal belum tampak kok sudah ganti bulan dan berpuasa! ” Pertanyaan demikian bisa dimaklumi karena masih terbiasa dengan matla’ lokal dan terbiasa dengan pemahanan tekstual hadis rukyah.
Tantangan-tantangan di atas menjadi beban berat, bahkan terberat bagi pelaksanaan KHGT kali ini. Kegamangan dan keraguan tumbuh tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kalangan ulama tarjih sendiri pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan itu mulai menghilang.
Pada masa-masa mendatang KHGT akan semakin mudah dipahami dan dipakai. Reliabilitas dan kepraktisan adalah keunggulan KHGT. Jika pada tahun-tahun mendatang hilal di Indonesia berada di atas ufuk pada akhir Sya’ban maka KHGT akan semakin relevan dan bisa diterima oleh masyarakat luas karena akan banyak negara yang sama penentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan KHGT.
Apalagi jika negara-negara penting sepakat untuk menggunakan KHGT tanpa perbedaan detail aplikasi, maka KHGT akan bisa menjawab kebutuhan akan kalender tunggal bagi umat Islsm sedunia yang handal, praktisi, dan menyatukan.
Oleh: Ahwan Fanani, Guru Besar UIN Walisongo Semarang/ Wakil Ketua MTT PWM Jawa Tengah



Discussion about this post