Penutupan Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat-Iran-Israel membuat harga minyak dunia melonjak. Minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menyentuh USD 116 awal Maret lalu.
Harga BBM 2026 terpantau sudah naik di sejumlah negara telah. Harga BBM naik 67,81 persen di Kamboja, disusul Vietnam dengan 49,73 persen, Laos 32,94 persen, Australia 16,55 persen, hingga Singapura 15,69 persen.
Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Akbar Pratama Kartika, S.E., M.SE., menjelaskan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan penting untuk distribusi minyak dan gas global. Penutupan Selat Hormuz memberikan efek domino terhadap perekonomian dunia.
“Sebanyak 20 persen perdagangan minyak mentah atau crude oil itu melalui Selat Hormuz,” ujar Akbar, Selasa (31/3/2026).
Efek Domino Penutupan Selat Hormuz
Akbar menyebut penutupan Selat Hormuz dapat memberikan efek domino bagi perekonomian global. Mulai dari sektor industri manufaktur, distribusi barang, hingga pertanian.
Kenaikan harga BBM dapat memberikan efek berantai yang berpengaruh pada melonjaknya biaya produksi dan distribusi barang. Mengingat BBM menjadi penggerak mesin produksi dan komponen harga logistik.
Pengaruhnya dapat dirasakan masyarakat pada sektor kebutuhan primer dan sekunder. Imbasnya harga barang semakin melonjak dan masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk bertahan hidup.
“Bisa dibayangkan biaya produksinya pabrik-pabrik ini juga akan naik. Impact-nya hasil produknya juga harganya akan naik. Yang menanggung kita lagi, konsumen,” terang dia.
Selain harga BBM, sektor pertanian juga berisiko terdampak penutupan Selat Hormuz. Pasalnya, Selat Hormuz memegang peranan penting pada jaringan distribusi pupuk global. Sebanyak 33 persen bahan pupuk dunia diangkut melalui Selat Hormuz.
Menurut Akbar, kondisi ini akan memengaruhi perekonomian negara-negara yang bertumpu pada sektor pertanian. “Kalau flow dari produk-produk yang terhambat ini tidak segera bisa didistribusikan lanjut, maka dampaknya di pasar itu akan kekurangan suplai, yang berimbas pada kenaikan harga barang,” lanjutnya.

Penyesuaian Harga BBM Indonesia
Harga BBM per April 2026 diprediksi akan melonjak seiring meningkatnya harga minyak global. Rencana pemerintah menaikkan harga BBM telah berembus dalam sepekan terakhir.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menyebut postur subsidi BBM dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2026 adalah USD 70. Lebih rendah dibanding harga minyak global saat ini, yang berada pada rentang USD 90 hingga USD 103.
Harga minyak dunia yang meroket, kata dia, dapat berisiko menambah defisit APBN 2026. Penyesuaian ini penting untuk menjaga agar defisit APBN tetap terkendali. “Pemerintah harus nombok atau menutup selisih kekurangan harga BBM itu,” katanya.
Kendati penyesuaian perlu dilakukan, Anton mendorong pemerintah untuk menjaga aspek keadilan. Salah satunya dengan menjaga harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh masyarakat kurang mampu.
Harga BBM bersubsidi diharapkan tidak naik terlalu besar. BBM bersubsidi harus tetap mendapatkan subsidi pemerintah. “Perhitungannya harus sangat cermat,” ujarnya.
Dorong Diversifikasi Energi
Penyesuaian harga BBM merupakan langkah krusial untuk menjaga stabilitas fiskal dalam jangka pendek. Di sisi lain, Anton mendukung pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi.
“Indonesia sebenarnya telah melakukan langkah nyata dalam diversifikasi energi. Sebagai contoh, solar subsidi kita saat ini sudah menerapkan program Biodiesel B40. Komposisinya terdiri dari 60 persen solar fosil dan 40 persen dari minyak sawit,” jelas Anton.
Diversifikasi itu membuat pemerintah tidak perlu bergantung pada impor minyak sawit. Ditinjau dari ketahanan energi, Anton menilai diversifikasi energi telah menunjukkan progres yang signifikan.
Selain biodiesel, pengalihan energi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi panas bumi, panel surya, maupun bioetanol atau biofuel.
Menurut Anton, diversifikasi energi adalah solusi jangka menengah dan panjang yang sangat diperlukan untuk menghadapi fluktuasi harga BBM akibat kondisi geopolitik global.
“Jika sekarang kita sudah sukses dengan B40, maka di tahun 2026 ini target kita adalah menuju B50. Artinya, 50 persen bahan bakar kita akan bersumber dari minyak sawit domestik dan 50 persen dari fosil,” tandasnya.




Discussion about this post