Membatik bukan sekadar menggambar motif di atas selembar kain. Di balik setiap goresan canting, ada pekerjaan yang menuntut ketelitian, kesabaran, sekaligus posisi bekerja yang sama selama berjam-jam.
Bagi pembatik, membungkuk terlalu lama, duduk tanpa banyak bergerak, atau berdiri sambil mengangkat cap batik sudah menjadi bagian dari rutinitas. Tak sedikit yang mengeluhkan pegal pada punggung, bahu, leher, hingga pinggang. Namun, keluhan tersebut kerap dianggap sebagai konsekuensi biasa dari pekerjaan.
Kasus itulah yang mendorong dosen Program Studi Sarjana Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Arif Pristianto, S.St.FT., M.Fis., meneliti gangguan muskuloskeletal pada pembatik di Kampung Batik Laweyan, Solo. Penelitian yang dilakukan pada 2024 tersebut tak sekadar memotret keluh kesah para pembatik, tetapi juga mengungkap faktor usia ternyata bukan penyebab utama munculnya keluhan nyeri.
Justru postur kerja dan posisi tubuh saat bekerja memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap munculnya keluhan muskuloskeletal.

Arif Pristianto, S.St.FT., M.Fis. Humas UMS/Imam Safii
“Awalnya kami memang mengembangkan Fisioterapi Komunitas, yang merupakan keunggulan Fisioterapi UMS. Ketika masuk ke komunitas pembatik, ternyata kami menemukan sesuatu yang menarik. Batik itu tidak hanya soal menulis di atas kain, tetapi prosesnya panjang dan setiap tahapan punya posisi bekerja yang berbeda,” ujar Arif, Kamis (27/8/2026).
Perbedaan Keluhan Badan
Arif dan tim tak hanya mengamati pembatik tulis. Mereka mempelajari seluruh rantai produksi, mulai dari pembuat pola, pencanting, pewarna, hingga pembatik cap.
“Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap divisi memiliki karakteristik keluhan yang berbeda,” jelas dia.
Pembatik cap lebih sering mengeluhkan nyeri pada bahu, leher, dan kaki karena harus berdiri sambil mengangkat cap berbahan tembaga yang berat. Pembatik tulis yang membuat pola lebih banyak mengalami nyeri punggung akibat terus membungkuk di atas kain berukuran lebar. Sementara para pencanting mereka yang menggambar motif lebih banyak merasakan keluhan pada bahu, pergelangan tangan, punggung, hingga bokong karena duduk dalam waktu lama.

Pembatik tunarungu Batik Mahkota Laweyan yang sedang mengecek hasil cantingnya. Humas UMS/Imam Safii
Temuan lapangan tersebut merupakan hasil wawancara Arif dengan 60 pembatik. Ia mengukur keluhan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), memetakan gangguan pada tubuh melalui Nordic Body Map (NBM), serta menilai risiko ergonomi kerja dengan Workplace Ergonomics Risk Assessment (WERA) dan pengukuran fungsi pada sejumlah regio tubuh.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar pembatik mengalami keluhan muskuloskeletal ringan hingga sedang. Menariknya, usia bukan menjadi penentu utama munculnya gangguan muskuloskeletal.
Justru yang patut diperhatikan ialah hubungan antara postur kerja ergonomis dengan risiko nyeri. Semakin buruk posisi kerja seseorang, semakin tinggi pula risiko munculnya keluhan.
Menurut Arif, temuan ini menjadi penting karena selama ini banyak pembatik atau bahkan pekerja di sektor lain yang menganggap nyeri tubuh pada pekerja hanya dipengaruhi usia.
“Yang menarik justru setiap proses membatik memiliki postur kerja, pola kerja, dan lingkungan kerja yang berbeda sehingga menghasilkan keluhan yang berbeda pula. Bisa di leher, bahu, pinggang, lengan, bahkan kaki,” katanya.
Apa yang ditemukan Arif sejalan dengan pengalaman Ngatmi (57), salah seorang pembatik tulis yang bekerja di Batik Mahkota Laweyan.Meski telah memasuki usia senja, Ngatmi muda dulu sudah sering merasakan pegal dan nyeri akibat aktivitas membatik.
Perempuan yang telah mengenal canting sejak duduk di bangku kelas IV sekolah dasar itu, mengaku sudah terbiasa bekerja dalam posisi duduk selama berjam-jam. “Yang paling sering terasa nyeri itu di bagian punggung sama pundak,” ujar Ngatmi.

Ngatmi, pembatik Batik Mahkota Laweyan yang berusia 57 tahun. Humas UMS/Imam Safii
Keluhan Ngatmi memang tak selalu muncul setiap hari. Namun ketika harus duduk terlalu lama menyelesaikan motif yang rumit, tubuhnya mulai terasa pegal.
“Kalau lama ya pegel-pegel. Biasanya saya berdiri sebentar, kayak peregangan. Biar badan agak enakan,” tuturnya.
Pengalaman Ngatmi menjadi bukti keluhan fisik tidak selalu berasal dari pekerjaan berat. Aktivitas yang tampak ringan seperti duduk sambil mencanting (kondisi statis dan repetitif) justru dapat memberi tekanan terus-menerus pada kelompok otot yang sama apabila dilakukan berulang tanpa jeda.
Semua Pekerjaan Statis Memiliki Risiko
Arif sendiri menegaskan, gangguan muskuloskeletal sebenarnya bukan persoalan yang hanya dialami pembatik. Keluhan serupa kini semakin banyak ditemukan pada pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer atau kondisi statis dan repetitif.

“Masalah utamanya adalah tubuh yang statis. Otot terus berkontraksi tanpa kesempatan relaksasi sehingga lama-kelamaan mengalami kekakuan dan nyeri,” jelas dia.
Keluhan nyeri memang dapat dikurangi melalui latihan peregangan, edukasi, dan perubahan kebiasaan kerja. Namun apabila seseorang kembali bekerja dengan postur yang salah, rasa nyeri berpotensi muncul kembali.
“Itu bisa diminimalisasi dengan latihan, peregangan, edukasi sebelum dan sesudah bekerja. Tetapi karena penyebabnya aktivitas, ketika aktivitas yang sama dilakukan terus dengan cara yang salah, keluhannya bisa kambuh lagi,” katanya.
Arif memberikan edukasi dan pelatihan kepada pekerja untuk melakukan gerakan ringan setiap 30 menit hingga satu jam. Berdiri sejenak, menggerakkan leher, bahu, punggung, maupun kaki dinilai jauh lebih baik daripada mempertahankan posisi duduk atau berdiri secara terus-menerus.
Melihat tingginya keluhan yang ditemukan di lapangan, Arif bersama tim Fisioterapi UMS pun kini tengah menyiapkan program lanjutan berupa pusat layanan kesehatan khusus pembatik di Kampung Batik Laweyan.
Program yang sedang diajukan melalui skema hibah itu akan bekerja sama dengan Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, serta melibatkan tenaga dari berbagai bidang kesehatan. Konsepnya bukan hanya menyediakan layanan pemeriksaan dan fisioterapi, tetapi juga edukasi yang mendatangi langsung sentra-sentra batik.
“Kami menyadari pembatik sulit meninggalkan pekerjaannya karena setiap jam sangat berharga bagi mereka. Jadi edukasinya nanti yang bergerak mendatangi tempat kerja mereka. Harapannya ada layanan pemeriksaan, terapi, konseling, sekaligus edukasi agar keluhan mereka bisa dikurangi,” jelas Arif.
Harapan itu disambut positif oleh para pembatik, termasuk Ngatmi. Baginya, edukasi mengenai cara bekerja yang lebih sehat akan membantu para pembatik mengurangi rasa pegal yang selama ini dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.
Sumber : Universitas Muhammadiyah Surakarta




Discussion about this post