Pentingnya pemilahan sampah rumah tangga, menggerakkan para dosen muda IPB University untuk menggelar sosialisasi pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Kegiatan sosialisasi kelola bank sampah digelar di RW 8 Kelurahan Situ Gede, Bogor (23/10).
Mereka adalah dosen dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL), Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Bahroin Idris Tampubolon, Fitria Dewi Raswatie, Asti Istiqomah, Osmaleli dan Dina Lianita Sari. Selain dari FEM, kegiatan ini juga menggandeng dosen dari Departemen Agronomi dan Hortikultura yaitu Shandra Amarillis. Kegiatan yang dihadiri oleh ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) ini merupakan penyegaran kembali terkait pentingnya pemilahan sampah.
“Terdapat tujuh tahapan dalam bank sampah, dari tahapan tersebut hal yang paling krusial adalah tahapan pemilahan. Pemilahan mulai dari rumah merupakan kunci berjalannya bank sampah di kelurahan Situ Gede,” ungkap Bahroin dalam sosialisasi tersebut.
Hasil sampah organik yang dikumpulkan, lanjutnya, dapat dijual ke bank sampah Rumah Kardus, yang memang sudah ada namun sempat terhenti di RW 8. Sedangkan hasil sampah organik dari pemilahan sampah di rumah, dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos sederhana.
“Pupuk kompos ini dapat digunakan warga untuk tanaman-tanaman pekarangannya. Pada kesempatan ini ibu-ibu diajarkan untuk membuat pupuk kompos dan mempraktikkannya, untuk kemudian dicek kembali dua minggu ke depan,” ungkapnya.
Sementara itu, Shandra menambahkan bahwa, “Kegiatan ini akan berlanjut, kita integrasikan dengan penanaman sayur-sayuran di lahan pekarangan ibu-ibu. Semoga ketika itu, pupuk kompos yang dibuat pun sudah dapat diaplikasikan”.
“Semangat ibu-ibu untuk mengerjakan pemilahan sampah dari rumah dan mempraktikkan pembuatan pupuk kompos kita fasilitasi dengan pembentukkan kelompok dalam pengelolaan sampah. Hal ini dapat menjadi cikal bakal terbentuknya kelembagaan warga dalam mengelola sampah,” imbuhnya.
Menurutnya, saat ini minat warga dalam mengelola sampah masih rendah. Sehingga diperlukan adanya keterlibatan langsung dari warga untuk memulai. Dari hal kecil, seperti memilah sampah di rumah, lalu bergotong royong mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Salah seorang warga menyampaikan bahwa selama ini ia belum pernah mencoba memilah sampah organik. Setelah adanya sosialisasi ini sampah sayuran maupun nasi sisa, akan mereka buang di tempat sampah yang berbeda.
“Semoga percobaan membuat pupuk organik ini berhasil dengan baik. Dan ke depannya kelurahan dapat mendukung dengan menyediakan alat komposter yang lebih besar agar dapat digunakan warga. Tentunya kegiatan ini sangat diapresiasi dan didukung oleh Ibu Lurah,” ungkap Aan, warga Desa Situ Gede. (Ang/Zul, IPB)
Baca Juga : UMM Lagi-lagi Jadi Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional



Discussion about this post