BANI adalah singkatan dari Brittle (rapuh), Anxiety (gelisah), Non-linear (tak linier) dan Incomprehensible (sulit dipahami). Keadaan ini diakibatkan oleh berbagai faktor di luar yang mempengaruhi kejiwaan seseorang dan mengakumulasi jadi fenomena masyarakat. Faktor-faktor itu bisa datang dari alam, seperti bencana alam, atau datang dari kehidupan sosial, politik dan kemasyarakatan di sebuah negara. Bisa juga akibat kecepatan teknologi digital yang saat ini sudah masuk ke dalam berbagai sektor kehidupan. Kondisi pandemi covid19 dengan berbagai variannya mempercepat BANI.
Bagaimana pendidikan tinggi menghadapi kenyataan ini. Tentu kita tidak boleh terlarut dengan “anxiety” yang menyebabkan stress dan depresi yang justru akan membuat keadaan tidak lebih baik. Perguruan tinggi selain harus menghadapinya secara cerdas memanfaatkan teknologi, juga semua sivitas akademika diajak untuk saling dukung saling mendoakan.
Perkuliahan yang saat ini dilakukan secara daring (online), mulailah dengan doa bersama. Misalnya keheningan 3 menit, sebelum materi dimulai. Dosen mendoakan seluruh peserta didik untuk kesehatan, kebahagiaan, semangat untuk maju, kolaborasi, dan dorongan moril lainnya. Jangan lupa bahwa ketenangan batin dan berpikir positif adalah doa awal untuk meningkatkan daya imun.
Perguruan Tinggi selain pendekatan spiritual setiap hari juga harus menyiapkan kurikulum dengan memanfaatkan Teknologi Digital. Saat ini pada umumnya lembaga pendidikan sudah menggunakan berbagai alat pengajaran virtual yang dipercepat akibat covid19. Pemerintah terus berusaha menyiapkan infrastrukturnya di hampir seluruh pelosok nusantara. Program ini tentu harus terus digencarkan agar semua wilayah Tanah Air mendapat fasilitas ini.
Terlepas dari banyak manfaat fasilitas digital ini, termasuk maraknya media sosial daring, ada beberapa efek negatifnya. Misalnya adanya unsur hoax, konten negatif yang belum waktunya ditonton oleh anak-anak kecil. Dalam hal ini pemerintah (KemeninfoKom) dapat melakukan blokir konten-konten tersebut. Pemerintah dapat mengajak perguruan tinggi untuk melakukan seleksi konten. Bagi perguruan tinggi yang memiliki prodi informatika (ilmu komputer, sistem informasi, teknologi informasi) dapat membuat teknologi untuk blokir yang efisien dan efektif.
Dosen dan mahasiswa psikologi dapat membuat konten-konten yang positif bagi kesehatan rohani. Begitu juga dosen dan mahasiswa prodi ilmu-ilmu kesehatan dapat membuat informasi tentang gizi, hidup sehat, trik olah raga ringan, dan sebagainya. Konten ini disebarluaskan secara terbuka untuk dilihat oleh banyak orang. Bukan hanya untuk internal kampusnya.
Media pembelajaran, selain menggunakan teknologi virtual 2D juga bisa masuk ke metaverse. Selain proses pembelajaran, metaverse ini juga dapat dipergunakan untuk pelayanan administrasi pendidikan.
Untuk menanggulangi persoalan energi, Kampus juga dapat memanfaatkan EBT (Energi Baru Terbarukan), terutama energi surya yang sangat banyak di Indonesia ini. Kementerian ESDM dan PLN dapat bekerjasama dengan universitas membuat Kampus Mandiri Energi. Kampus-kampus yang mempunyai prodi peternakan dapat membuat biogas, setidaknya untuk praktikum yang memerlukan api.
Dengan upaya-upaya itu maka Kampus dapat menanggulangi persoalan BANI. Upaya ini dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital, mengurangi polusi, penyebaran konten kesehatan rohani dan jasmani. Kemasan kurikulumnya dikemas sekaligus untuk meningkatkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan, selain peningkatan keterampilan, dan profesionalitas, dan jiwa entrepreneurship.
Asep Saefuddin (Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia/Guru Besar IPB)
Baca Juga : Lewat Pendekatan Bioinformatika, Dosen FTUI Teliti Alternatif Obat COVID-19




Discussion about this post