Academiamu
No Result
View All Result
Jumat, Oktober 23, 2026
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
Subscribe
Academiamu
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
No Result
View All Result
Academiamu
No Result
View All Result
Home Info Kampus

Mengapa Rasisme Kerap Terjadi di Ruang Publik Kita, Ini Kata Dosen UM Surabaya

by academiamu
April 17, 2022
in Info Kampus, Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
Mengapa Rasisme Kerap Terjadi di Ruang Publik Kita, Ini Kata Dosen UM Surabaya
156
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Pertandingan International Youth Championship (IYC) di Jakarta International Stadion (JIS) dalam laga Atletico Madrid U18 melawan Bali United U18 diwarnai aksi rasisme hingga seksisme dari penonton. Aksi yang tak patut ditiru dan menuai banyak kecaman tersebut menarik perhatian Dosen UM Surabaya Radius Setiyawan untuk memberikan tanggapan.

Dalam keterangan tertulis, Radius menjelaskan dalam konteks Indonesia. Perilaku atau ucapan rasisme sering terjadi di Indonesia.

RelatedPosts

Nyeri Badan yang Ditanggung Pembatik Solo

Belajar dari Dayak Iban Sungai Utik, Pakar ITB: Memahami Api dalam Sistem Pengelolaan Lahan

Hukum Menjamak Salat demi Hiburan

“Selalu saja terulang, lagi-lagi ruang publik kita dikotori tindakan rasis. ”tutur Radius Minggu (17/4/22)

Radius juga menyebutkan bahwa perlakukan rasis kerap mengotori ruang publik di Indonesia. Dalam rentan waktu yg tidak terlalu lama terjadi beruntun. Perlakuan rasisme terhadap Obby Kogoya di tahun 2016. Persekusi pada mahasiswa Papua di Surabaya di tahun 2019, aksi rasisme terhadap youtuber Papua, ungkapan salah satu Menteri yang mengancam ASN yang tidak cekatan dalam bekerja untuk di mutasi di Papua.

Dan yang rasanya baru saja terjadi kemarin yang dialami oleh pemain dan pelatih asal Papua, Rivaldo Wally dan Ardiles Rumbiak. Kejadian tersebut terjadi pada babak 32 besar liga 3 antara Belitong FC versus Persikota Tangerang.

“Dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme biasanya menyasar orang dengan kulit berwarna atau hitam. Yang paling sering menimpa saudara-saudara kita di Papua,” imbuh Radius yang juga Alumnus S2 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada.

Menurutnya wacana kolonial tidak bisa dilepaskan dalam kejadian tersebut, masyarakat kulit hitam ditempatkan masih sebagai makhluk yang belum dewasa (mature), terbelakang, bodoh dan layak untuk dijadikan hinaan atau lelucon. Khas cara berpikir kolonial.

Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan persoalan rasisme yang terjadi hari ini belum menjadi perhatian utama negara ini, sehingga bisa dipastikan akan ada aksi konyol merendahkan bahkan menghina etnis lain di ruang publik.

“Mental rasis mengendap sekian lama dan mengharuskan kita selalu memiliki keinginan untuk menghina dan bahkan menundukkan siapa saja yang dianggap rendah. Ini persoalan akut bangsa ini,”tegas Radius.

Sementara itu, modal utama menjadi negara demokratis adalah pengakuan atas kesamaan dari segala macam perbedaan. Indonesia yang multikultur tidak akan bisa besar jika hambatan-hambatan seperti rasisme tetap ada dan cenderung dibiarkan. Kemanusiaan  harus menjadi nilai utama dalam membangun ke-Indonesiaan.

“Masyarakat kulit apapun harus di posisikan sebagai bangsa yang sama dan mempunyai hak yang sama pula,”ujarnya.

Di akhir keterangannya ia menegaskan peran negara harus hadir mengurai masalah serius tersebut. Membangun cara pandang baru melalui pendidikan dan budaya. Karena kalau dibiarkan saja. Ruang publik kita akan tercemar dengan aksi-aksi rasis yang memalukan.

Baca Juga : Pakar Kesehatan UM Surabaya Beberkan Jenis Makanan untuk Pasien Omicron Agar Cepat Pulih

Tags: UMSurabaya

Discussion about this post

ADVERTISEMENT
Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN

Popular News

  • Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    1281 shares
    Share 512 Tweet 320
  • Prof. Dr. Muji Setiyo, S.T., M.T Guru Besar Termuda di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

    458 shares
    Share 183 Tweet 115
  • Peran Statistika Dalam Era Digital

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Dirjen Pendidikan Tinggi : Mahasiswa Kembali Beraktivitas di Kampus

    303 shares
    Share 121 Tweet 76
  • WANITA BERKERUDUNG ITU PENDIRI UNIVERSITAS PERTAMA DI DUNIA

    286 shares
    Share 114 Tweet 72

Recent News

Nyeri Badan yang Ditanggung Pembatik Solo

Nyeri Badan yang Ditanggung Pembatik Solo

September 5, 2026
Belajar dari Dayak Iban Sungai Utik, Pakar ITB: Memahami Api dalam Sistem Pengelolaan Lahan

Belajar dari Dayak Iban Sungai Utik, Pakar ITB: Memahami Api dalam Sistem Pengelolaan Lahan

September 4, 2026

Kategori

  • Advetorial
  • blog
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh

Site Navigation

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

ACADEMIAMU

“Berita Academia Nomor Satu Di Indonesia.”

 

“The greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things.”

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif

No Result
View All Result
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Homepage
    • Beranda
    • Advetorial
    • Info Kampus
    • Inspirasi
    • Internasionalnews
    • Opini
    • Sainstekno
    • Sosok
    • Tokoh

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif