Academiamu
No Result
View All Result
Kamis, Januari 22, 2026
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
Subscribe
Academiamu
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
No Result
View All Result
Academiamu
No Result
View All Result
Home Info Kampus

Mengapa Makan Bergizi Gratis Perlu Dievaluasi?

by academiamu
Januari 19, 2025
in Info Kampus, Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Mengapa Makan Bergizi Gratis Perlu Dievaluasi?
154
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Pemerintah mulai melaksanakan program makan bergizi gratis di 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 26 provinsi. Program tersebut merupakan realisasi janji kampanye Prabowo-Gibran yang dilontarkan tahun lalu. 

Di bawah komando Badan Gizi Nasional, program makan gratis itu digelar secara bertahap. Tahap pertama dimulai sejak Senin (6/1/2025). Target penerima makan bergizi gratis tahap pertama sebanyak 600 ribu pelajar. Lebih rendah dari target 3 juta pelajar untuk periode Januari-April. Alokasi anggaran juga turun menjadi Rp10 ribu per porsi.

RelatedPosts

Sosialisasi dan Workshop E-MESp 4Cs Mobile Terintegrasi Sekaresidenan sebagai Uji Coba Tahap 2

UMSA dan UMP Kerja Sama KKN Internasional

Mahasiswa Unismuh Latih Public Speaking Siswa

Mengutip laman Indonesia.go.id, program makan bergizi gratis menelan anggaran Rp71 triliun pada 2025. Sedangkan, total kebutuhan anggaran program tersebut mencapai Rp450 triliun.

Pemerintah menargetkan 83 juta penduduk menerima manfaat program pada 2029. Adapun para penerima program antara lain pelajar pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas, anak di bawah usia lima tahun atau balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Hari pertama pelaksanaan diwarnai dengan keterlambatan pendistribusian makanan. Berdasar pewartaan Tempo, Selasa (7/1/2025), Sekolah Dasar Negeri 06 Pulogebang, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, harus menunda pelaksanaan makan bergizi gratis. Program tersebut sedianya akan dilaksanakan pukul 09.00 WIB. Namun pihak katering baru tiba pukul 09.30 WIB. 

Ahli gizi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Dwi Sarbini, SST., M.Kes., menyayangkan keterlambatan yang membuat siswa harus menunggu untuk makan. “Siswanya itu tiwas (terlanjur)enggak bawa bekal dan harus nunggu makanan,” kata dia, Senin (13/1/2025).

Dari beberapa gambar yang beredar di media sosial, porsi makan gratis itu menjadi sorotan. Akun X @barengwarga mengkritisi komposisi makan bergizi gratis. “Jamur kuping di mienya bau kak, yang sedikit banget itu udang,” cuit @barengwarga mengulangi keluh kesah salah satu pengikutnya, Senin (13/1/2025). 

Seporsi makan siang gratis di salah satu sekolah di Provinsi Jawa Timur yang dibagikan akun X @barengwarga. Proporsi makanan, rasa, dan cara penyajian menjadi keluh kesah masyarakat selama dua pekan pertama berjalannya program. Twitter @barengwarga

Faktor anggaran diduga menjadi salah satu pemicu komposisi lauk makan bergizi gratis terbilang minim. “Mungkin karena anggarannya sedikit ya,” imbuh ahli gizi UMS itu. 

Sebelumnya, pemerintah menetapkan alokasi anggaran makan bergizi gratis sebesar Rp15 ribu per porsi. Lantaran keterbatasan anggaran, Presiden Prabowo Subianto memutuskan menurunkan anggaran menjadi Rp10 ribu per porsi pada Jumat, 29 November 2024. 

CNN Indonesia pada 3 Desember 2024 turun ke sejumlah warung untuk melihat opsi yang didapatkan dengan uang Rp10 ribu. Hasilnya, uang tersebut dapat menghasilkan satu porsi makanan berisi nasi, satu jenis sayur, dan satu jenis lauk protein selain daging, misalnya tempe atau tahu. 

Untuk mendapatkan lauk daging, pilihannya ada dua. Pertama, hanya mendapatkan satu jenis lauk hewani. Atau kedua, mendapat lauk hewani dan lauk lainnya harus dikurangi porsinya. 

Sorotan lainnya juga menyasar pada kebiasaan anak Indonesia yang kurang menggemari sayuran. Kondisi ini membuat risiko sampah makanan meningkat, berasal dari sayuran yang tidak termakan anak-anak. 

Untuk menyiasatinya, Dwi Sarbini menyarankan untuk memodifikasi cara pengolahan sayur ke dalam bentuk lain. Misalnya, omelet, naget, atau mi berbahan sayur. “Memilih warna sayur yang terang atau berwarna-warni agar menarik,” terusnya. 

Dwi juga menekankan pentingnya sosialisasi secara merata dan masif ke seluruh sekolah di Indonesia. “Penguatan komunikasi dan pelatihan lebih intensif membuat pelaksanaan program ini dapat berjalan lebih lancar dan efektif,” tegas dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UMS itu.

Berapa Kalori Anak?

Pedoman Isi Piringku menjadi acuan penting dalam penyusunan menu anak sekolah. Menurut pedoman yang dirilis Kementerian Kesehatan itu, 1/3 piring berisi sayuran, 1/3 berisi makanan pokok, 1/6 berisi buah, dan 1/6 berisi protein. 

“Tapi yang sering terjadi saat ini, menu MBG belum sepenuhnya sesuai, hal ini bisa disebabkan oleh berbagai kendala, seperti logistik atau anggaran,” jelas Dwi.

Mengacu pada angka kecukupan gizi atau AKG, kebutuhan gizi anak dibedakan tergantung usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, dan aktivitas fisik. Anak SD usia 6-12 tahun membutuhkan 1.400-2.000 kalori per hari, anak SMP usia 13-15 tahun membutuhkan 2.050-2.400 kalori per hari,dan anak SMA usia 16-18 tahun membutuhkan 2.100-2.650 kalori per hari. 

Dwi menjelaskan, makan siang sebaiknya memenuhi sekitar 30 persen dari jumlah kebutuhan kalori yang dibutuhkan anak. “Sekitar 400 sampai 800 kalori,” tuturnya.

Keberadaan susu dalam seporsi makan bergizi gratis juga menjadi sorotan. Sebab, dalam konsep gizi seimbang Isi Piringku, susu bukan lagi menu esensial yang diberikan untuk anak. Konsep tersebut telah mendobrak pemahaman 4 sehat 5 sempurna yang selama ini menganggap susu sebagai penyempurna kebutuhan gizi. 

Dalam pantauan di linimasa media sosial, sejumlah warganet mendapati beberapa sekolah yang masih memberikan susu. Tak jarang susu yang diberikan mengandung pemanis tambahan.

Beberapa alasan yang mengemuka mengenai susu adalah mahalnya biaya produksi dan proses logistik yang rumit. Mengingat susu sangat sensitif terhadap perubahan suhu dibanding sumber nutrisi lainnya. Laktosa pada susu menjadi alergen yang dapat menimbulkan sakit perut bagi orang yang alergi laktosa.

Dwi Sarbini mengatakan, susu bukan lagi penyempurna jika kandungan gizi di dalamnya dapat diperoleh dari bahan pangan lainnya. “Sumber kalsium kan ada banyak. Brokoli misalnya. Tanpa susu pun sumber kalsium itu banyak,” imbuh Kaprodi Dietisien UMS itu.

Berdayakan Kearifan Lokal

Sebagai sebuah proyek nasional bernilai fantastis, sudah seharusnya pemerintah memberdayakan kearifan lokal dalam program makan bergizi gratis. Dwi Sarbini mendorong pemerintah untuk memanfaatkan sumber pangan lokal sebagai salah satu menu makan gratis. 

“Nasi bisa diganti sumber karbohidrat lain. Bisa kentang, jewawut, ubi, singkong, atau gembili. Kita harus memperhatikan kearifan lokal. Apa yang dipunyai, itu yang dimanfaatkan,” ungkap Dwi. 

Untuk menyongsong makan bergizi gratis, Dwi menjelaskan Muhammadiyah telah menyiapkan tim khusus untuk mengembangkan program tersebut di sekolah-sekolah milik Muhammadiyah. Dirinya membeberkan telah bergabung sebagai anggota tim gizi dan menu dalam Koordinasi Nasional Gizi Khusus Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Menurut Dwi, tim tersebut dibentuk untuk mengelola sekaligus membangun ekosistem program makan bergizi yang lebih baik. Salah satu strateginya dengan memanfaatkan tanah wakaf milik Muhammadiyah, baik untuk lahan budidaya tanaman pangan maupun dapur. Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai adalah menggerakkan ekonomi kolektif dalam program makan bergizi gratis. 

Muhammadiyah juga ingin mencanangkan pendidikan karakter seiring berlakunya program makan gratis. Misalnya dengan adab berdoa sebelum makan, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, hingga merapikan piring seusai makan. “Bukan hanya memberi makan, tetapi pembentukan karakter anak,” tambahnya.

Dwi mengamini jika terdapat sejumlah kendala selama tahap awal program makan bergizi gratis. Ia pun mendorong pemerintah untuk mengevaluasi segera pelaksanaan program. 

Beberapa hal yang perlu dievaluasi, antara lain penguatan infrastruktur, pelatihan petugas, dan pengelolaan logistik. “Agar manfaat program dapat dirasakan secara maksimal oleh anak-anak,” tuturnya. 

Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tags: UMSurakarta

Discussion about this post

ADVERTISEMENT
Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN

Popular News

  • Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    1255 shares
    Share 502 Tweet 314
  • Prof. Dr. Muji Setiyo, S.T., M.T Guru Besar Termuda di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

    457 shares
    Share 183 Tweet 114
  • Peran Statistika Dalam Era Digital

    311 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Dirjen Pendidikan Tinggi : Mahasiswa Kembali Beraktivitas di Kampus

    302 shares
    Share 121 Tweet 76
  • WANITA BERKERUDUNG ITU PENDIRI UNIVERSITAS PERTAMA DI DUNIA

    282 shares
    Share 113 Tweet 71

Recent News

Sosialisasi dan Workshop E-MESp 4Cs Mobile Terintegrasi Sekaresidenan sebagai Uji Coba Tahap 2

Sosialisasi dan Workshop E-MESp 4Cs Mobile Terintegrasi Sekaresidenan sebagai Uji Coba Tahap 2

Desember 16, 2025
Gambar kerjasama UMSA-UMP

UMSA dan UMP Kerja Sama KKN Internasional

November 9, 2025

Kategori

  • Advetorial
  • blog
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh

Site Navigation

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

ACADEMIAMU

“Berita Academia Nomor Satu Di Indonesia.”

 

“The greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things.”

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif

No Result
View All Result
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Homepage
    • Beranda
    • Advetorial
    • Info Kampus
    • Inspirasi
    • Internasionalnews
    • Opini
    • Sainstekno
    • Sosok
    • Tokoh

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif