Indonesia menduduki peringkat teratas dalam konsumsi mikroplastik, dengan estimasi 15 gram per orang setiap bulan. Partikel-partikel kecil ini, hasil degradasi sampah plastik yang tak terkelola baik, tanpa disadari masuk ke tubuh melalui makanan dan udara.
Pakar lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Syamsudduha Syahrorini ST MT, menjelaskan bahwa penggunaan plastik dalam kemasan makanan merupakan faktor utama masifnya mikroplastik dalam rantai makanan. Hal ini berdampak pada kesehatan makhluk hidup karena mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi. Contohnya, talenan plastik dapat memaparkan hingga 79,4 juta mikroplastik polipropilena per tahun. Wadah es batu dan produk ‘aman microwave’ pun berpotensi melepaskan partikel plastik kecil saat dipanaskan.
Plastik sekali pakai juga menjadi penyebab utama, dengan proses pembentukan mikroplastik yang melibatkan berbagai tahap. Tahap-tahap ini dimulai dari penggunaan produk rumah tangga hingga penyebarannya ke lingkungan, yang pada akhirnya mencemari ekosistem.
Dua Jalur Utama Mikroplastik Masuk Tubuh
Dr. Rini menjelaskan bahwa mikroplastik terbentuk melalui dua jalur utama:
- Mikroplastik Primer: Partikel plastik kecil yang sengaja diproduksi dalam produk rumah tangga seperti sabun cuci muka, scrub tubuh, pasta gigi, serta serat mikro dari pakaian sintetis. Paparan juga bisa menyebar melalui butiran plastik dalam detergen atau produk pembersih.
- Mikroplastik Sekunder: Terbentuk dari fragmentasi benda plastik besar seperti kantong plastik, botol air, dan kemasan makanan yang terdegradasi akibat paparan sinar matahari, panas, dan oksigen. Produk sekali pakai yang dibuang sembarangan juga akan mengalami fotodegradasi dan terurai menjadi partikel plastik kecil.
Bahaya Mikroplastik di Ekosistem Air dan Udara
Mikroplastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem air. Sebagian besar partikel ini berasal dari limbah rumah tangga yang berakhir di perairan. Mikroplastik di laut dapat dimakan oleh organisme laut seperti ikan, zooplankton, dan terumbu karang, mengganggu sistem pencernaan dan reproduksi mereka.
Proses bioakumulasi terjadi ketika mikroplastik berpindah dari spesies perairan ke tubuh manusia saat mengonsumsi ikan. Ikan laut yang terpapar mikroplastik sangat berbahaya jika dikonsumsi karena partikel tersebut terakumulasi dalam tubuh ikan, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan seperti gangguan kekebalan tubuh dan neurotoksisitas.
Selain itu, udara juga menjadi penyumbang paparan mikroplastik, terutama dari pembakaran plastik yang menghasilkan emisi karbon dan membentuk selubung di atmosfer, memerangkap panas dan memicu perubahan iklim. Partikel mikroplastik di udara juga dapat dihirup manusia dan hewan, berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Pakar Umsida ini menekankan pentingnya pengendalian efektif terhadap pencemaran mikroplastik untuk mencegah dampak kesehatan jangka panjang.
Sumber – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo



Discussion about this post