Bagi jutaan jemaah haji Indonesia yang kini bisa mendaftar dan memantau keberangkatan mereka secara mudah dan digital, nama Laksamana Muda TNI (Purn.) Dr. (H.C.) dr. H. Tarmizi Taher patut dikenang sebagai pahlawan di balik layar.
Menjabat sebagai Menteri Agama (Menag) periode 1993–1998 dalam Kabinet Pembangunan VI era Presiden Soeharto, pria kelahiran Padang, 7 Oktober 1936 ini adalah perpaduan langka yang sulit dicari tandingannya: ia adalah seorang dokter spesialis, jenderal bintang dua Angkatan Laut, sekaligus ulama yang memiliki darah juang Minangkabau yang kental.
Darah Ulama dan Keluarga Pergerakan Minang
Fondasi keagamaan dan kedisiplinan Tarmizi Taher tidak tumbuh begitu saja. Ia lahir dari pasangan Taher Marah Soetan dan Djawanis. Ayahnya adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan di Sumatra Barat yang juga mengelola agen perkapalan di Pelabuhan Teluk Bayur.
Sementara ibunya, Djawanis, merupakan tokoh emansipasi Islam yang pernah menjabat sebagai Ketua Aisyiyah Sumatra Barat. Darah ulama mengalir deras dari kakeknya, Tuanku Syekh Sabir, seorang ulama besar yang sangat termasyhur dari Batusangkar, Tanah Datar.
Mengabdi di KRI Irian hingga Menjadi Jenderal Mental ABRI
Ketertarikannya pada dunia medis membawanya kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, hingga lulus pada tahun 1964. Setelah menyandang gelar dokter, Tarmizi memilih jalur pengabdian yang menantang dengan masuk ke TNI Angkatan Laut (TNI-AL).
Selama hampir tiga dasawarsa mengenyam dunia militer, kariernya terbilang sangat unik dan cemerlang. Ia pernah ditugaskan sebagai Perwira Kesehatan di kapal perang legendaris KRI Irian, menjadi Juru Bicara Fraksi ABRI di MPR, hingga Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI-AL.
Kombinasi langka antara keahlian medis, ketertarikan mendalam pada ilmu psikologi, serta latar belakang agama yang kuat membuatnya dipercaya menduduki posisi puncak sebagai Kepala Pusat Pembinaan Mental (Kapusbintal) ABRI dengan pangkat Laksamana Muda (Jenderal Bintang Dua).
Bapak Modernisasi Haji: Pencetus Siskohat dan Dana Abadi Umat
Setelah pensiun dari militer, Tarmizi sempat mengabdi sebagai Sekjen Departemen Agama selama lima tahun sebelum akhirnya ditunjuk oleh Presiden Soeharto menjadi Menteri Agama pada tahun 1993. Di sinilah ia menorehkan tinta emas lewat dua warisan monumental yang merevolusi sistem keagamaan Indonesia:
Siskohat (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu): Sebelum era Tarmizi Taher, manajemen pendaftaran haji di Indonesia masih sangat tradisional, semrawut, dan rawan manipulasi. Tarmizi menjadi arsitek utama yang mengintegrasikan sistem pendaftaran dan pemantauan haji secara digital dan terkomputerisasi. Berkat Siskohat, manajemen haji Indonesia berubah menjadi salah satu yang paling rapi dan transparan di dunia.
Dana Abadi Umat (DAU): Ia menginisiasi konsep pengelolaan dana abadi yang dikumpulkan secara transparan dari sisa efisiensi biaya haji. Dana ini dialokasikan khusus untuk kemaslahatan umat, seperti pembangunan sarana ibadah dan beasiswa pendidikan Islam.
Akhir Perjalanan Sang Pelopor
Pasca-mengemban amanah sebagai menteri, Tarmizi tetap aktif mengabdi. Ia sempat ditugaskan menjadi Duta Besar RI untuk Norwegia merangkap Islandia, menjabat Rektor Universitas Islam Az-Zahra Jakarta (2004–2008), serta memimpin sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2006–2011.Atas dedikasinya yang luar biasa di bidang syiar Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa di bidang dakwah.@
Sang jenderal dokter ini mengembuskan napas terakhirnya pada 12 Februari 2013 dalam usia 76 tahun di RSCM Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasanya, nama beliau kini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit TNI-AL (RSAL) Dr. dr. Tarmizi Taher di Lantamal II Padang, Sumatra Barat.
Sumber: Wikipedia




Discussion about this post