Prof. Dr. rer. nat. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja (15 Maret 1925 – 5 Mei 1993) adalah seorang tokoh pendidikan dan penelitian, guru besar Biologi ITB dan Rektor kelima ITB. Selain itu Doddy juga pernah menjabat sebagai Ketua LIPI dan Duta Besar RI untuk Prancis. Ia lahir dari pasangan Raden Benjamin Tisna Amidjaja dan Nji Raden Dewi Saprah Djajanagara. Sebenarnya saya tidak pernah menjadi mahasiswa langsung Prof. Doddy, karena Beliau adalah Dosen Biologi ITB, sedangkan saya S1 di IPB. Tapi entah mengapa sejak S1 saya termasuk mengagumi Prof. Doddy. Beberapa kisah kehebatan, kelembutan, wibawa, dan ketenangan Prof. Doddy saya peroleh dari teman-teman ITB. Sering Prof. Doddy disebut sebagai dosen level “dewa”.

Kelembutan Prof. Doddy dapat dirasakan baik melalui kata-katanya ketika berpidato, ngobrol, atau tulisannya. Waktu berpidato, alhamdulillah, saya mendapat kesempatan langsung mendengarkan setidaknya tiga kali. Pertama sekitar tahun 1979 awal pada saat Prof. Doddy sebagai Dirjen Dikti. Saya sebagai Sekjen DM Dewan Mahasiswa) yang (berubah namanya jadi BE (Badan Eksekutif) mahasiswa IPB, mengundang Prof. Doddy hadir di acara penjelasan tentang BKK-NKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan-Normalisasi Kehidupan Kampus).
Kesan pertama ketika mendengar dan melihat langsung Prof. Doddy, memang tidak salah kalau Beliau adalah dosen level “dewa”. Prof. Andi Hakim sebagai Rektor IPB saat itu, terlihat sangat hormat kepada Prof. Doddy. Dengan bahasa sederhana dan logat “Sunda” yang kental plus tutur kata yang halus, kompleksitas NKK-BKK dengan mudah bisa diterima para mahasiswa yang waktu cenderung “anti NKK-BKK”, terutama aspek BKKnya. Saya sebagai Sekjen BEM IPB, saat itu cukup stress, khawatir Prof. Doddy kena serangan mahasiswa. Alhamdulillah acara di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) IPB saat itu lancar dan relatif hening, mendengar “Sang Dewa” bertutur kata.
Kesempatan kedua, saya mendengar pidato Prof. Doddy di acara kursus bahasa Prancis bagi para Dosen Penerima Beasiswa Pemerintah Prancis awal tahun 1983. Beliau datang ke tempat kursus di Biotrop IPB-Seameo. Kami sedang duduk di ruang kursus, diumumkan akan ada kunjungan Dirjen Dikti, Prof. Doddy Tisna Amidjaja. Tidak lama setelah itu “Sang Dewa” masuk dengan mengucapkan Assalamu’alaikum dan salam Sunda “punten”. Suara khasnya mengingatkan saya pada acara BEM IPB tahun 1979 awal.
Beliau masuk ke dalam ruang kursus, tidak duduk langsung di meja depan, tapi menyalami seluruh peserta kursus sekitar 40 orang. Sambil menanyakan kadang-kadang campur bahasa Sunda “dosen universitas mana wae ieu teh?”. Pas saya bicara dan beliau sepertinya bisa menduga saya dari Jabar karena logat Sunda yang cukup kental, langsung bertanya “Dosen dimana?”, saya jawab “IPB Pak”. Langsung Beliau bertanya “punten kawit timana? (Maaf, asal dari mana?). Saya jawab: “Ti Garut, Pak” (dari Garut). Beliau bilang sambil tersenyum ” sami atuh”. (Sama).
Ketiga, ketika peserta kursus Bahasa Inggris tahun 1989 ada pembekalan di Aula LIPI. Beliau saat itu sudah menjadi Ketua LIPI. Gayanya tidak berubah, tetap ramah, sederhana, mendalam, rendah hati, dan selalu mendoakan hadirin. Orang level dewa masih terasa.
Di luar itu, Beliau sangat memperhatikan mahasiswanya, bahkan dari kampus lain sekalipun. Pernah ada senior HMI dari Unpad (Kang Harun Al Rasyid) yang menikah di Garut. Mahasiswa tersebut adalah kakak organisasi saya di HMI. Saya hadir dalam pernikahannya dan melihat Prof. Doddy hadir (tahun 1978). Begitu saya menyapa Prof. Doddy, Beliau tersenyum dan mengajak bicara seperti halnya sudah kenal lama. Padahal bertemu secara fisik dengan Prof. Doddy waktu itu baru pertama kali. Saya merasakan kehangatan sapaannya. Dan yang luar biasa, Beliau menghormati siapapun yang menyapanya. Luar biasa.
Penerima Beasiswa Pemerintah Perancis sekitar akhir Maret 1983, Beliau sebagai Dirjen mengantar kami ke Halim Perdana Kusumah. Satu persatu disapa. Pada saat itu, saya bersama Ayah yang kakinya hanya satu (ditembak Belanda tahun 1949 sehingga harus dipotong), Prof. Doddy menuntun ayah dan mempersilahkan duduk. Sangat mengagumkan. Itulah Prof. Doddy Tisna Amidjaja, Guru yang patut kita teladani.
Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al-azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB
Baca Juga : dr. Soetomo, Pahlawan Nasional dan Tokoh Kedokteran Muhammadiyah




Discussion about this post