Academiamu
No Result
View All Result
Minggu, Februari 15, 2026
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
Subscribe
Academiamu
  • Beranda
  • Advetorial
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh
No Result
View All Result
Academiamu
No Result
View All Result
Home Info Kampus

Manajemen Konservasi: Belajar dari Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai

by academiamu
Oktober 18, 2021
in Info Kampus, Inspirasi
Reading Time: 2 mins read
A A
Manajemen Konservasi
175
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sejarah konservasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1912 oleh sekumpulan orang Belanda yang membentuk Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda, diketuai oleh Dr. Sijfert Hendrik Koorders. Dari Dr. Koorders-lah pengusulan perlindungan kawasan-kawasan dan jenis-jenis flora dan fauna tertentu ke pemerintah Belanda dilakukan.

Kawasan konservasi di Indonesia saat ini mencapai 27,14 juta hektar dengan 554 unit taman nasional pemegang luas terbesar (16,22 juta hektar). Topik tentang pengelolaan Kawasan konservasi tersebut diulas dalam webinar Magister Biomanajemen SITH ITB, (15/9). Acara dibuka oleh Dr. Sofiatin, S.Hut., M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Biomanajemen dan Prof. Dr. Tati S. Syamsuddin selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Biologis.

RelatedPosts

Mahasiswa Teknik Kimia UMS Ciptakan Hidrogel Ramah Lingkungan dari Limbah Kulit Jagung

Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri

Sosialisasi dan Workshop E-MESp 4Cs Mobile Terintegrasi Sekaresidenan sebagai Uji Coba Tahap 2

Narasumber pada kuliah umum ini adalah Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Teguh Setiawan, S.Hut., MNatResSt, M.M. Ia mengatakan bahwa, Gunung Ciremai adalah gunung soliter yang memiliki luas 14841,3 HA yang beririsan antara Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Kuningan dengan total 54 desa penyangga di dalam kawasan tersebut.

Hubungan timbal-balik yang sangat erat antara TN dengan daerah penyangganya sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekologi. “Masyarakat harus senang dengan taman nasional, jangan bermusuhan dengan masyarakat,” ujarnya.

Prinsip konservasi sesuai undang-undang nomor 5 tahun 1990 adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sedangkan tiga pilar pengelolaan TN adalah ekologi, sosial budaya, ekonomi. Keduanya harus saling disandingkan, sehingga dapat terwujud proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Karena pengelolaan kawasan konservasi TNGC dilakukan dengan pendekatan wisata alam, maka untuk keberlanjutan yang lebih baik, masyarakat desa penyangga setempat turut serta dalam membangun kawasan mereka baik secara ekonomi maupun ekologi.

Implementasi kolaborasi pengelolaan TNGC dibagi kepada enam aspek: perlindungan kawasan, penanganan kebakaran hutan, pengelolaan jasa lingkungan WA, pengelolaan sampah ODTWA, pemulihan ekosistem, dan pengelolaan keanekaregaman hayati.

“Semua dilakukan dengan pendekatan wisata alam dan kontribusi masyarakat yang besar,” ujarnya.
Baik pengelolaan sampah, sektor pertanian, pengelolaan ODTWA, hingga penugasan setiap warga yang terspesialisasi dilakukan untuk terus meningkatkan kualitas kawasan konservasi sekaligus mata pencaharian mereka.

Terdapat pembagian zonasi pada kawasan TNGC, seperti zona inti, rimba, pemanfaatan, dan rehabilitasi. Terdapat kenaikan angka pada semua zona sejak 2012, kecuali rehabilitasi yang menurun. Hal ini menandakan proses rehabilitasi di kawasan gunung ciremai dikatakan berhasil.

Pengelolaan TNGC dengan masyarakat sekitar juga berdampak pada kesejahteraan yang didapat untuk mereka, baik dari segi wisata alam, penelitian, pendidikan, hingga produk yang dihasilkan.

Baca Juga : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Lahirkan Guru Besar Termuda Bidang Ilmu Pemerintahan

Tags: ITB

Discussion about this post

ADVERTISEMENT
Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN Lembaga Bimbingan Belajar CLeFUN

Popular News

  • Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    Keadaan VUCA Menjadi Semakin BANI

    1258 shares
    Share 503 Tweet 315
  • Prof. Dr. Muji Setiyo, S.T., M.T Guru Besar Termuda di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

    457 shares
    Share 183 Tweet 114
  • Peran Statistika Dalam Era Digital

    311 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Dirjen Pendidikan Tinggi : Mahasiswa Kembali Beraktivitas di Kampus

    303 shares
    Share 121 Tweet 76
  • WANITA BERKERUDUNG ITU PENDIRI UNIVERSITAS PERTAMA DI DUNIA

    283 shares
    Share 113 Tweet 71

Recent News

Mahasiswa Teknik Kimia UMS Ciptakan Hidrogel Ramah Lingkungan dari Limbah Kulit Jagung

Mahasiswa Teknik Kimia UMS Ciptakan Hidrogel Ramah Lingkungan dari Limbah Kulit Jagung

Februari 8, 2026
Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri

Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri

Februari 7, 2026

Kategori

  • Advetorial
  • blog
  • Info Kampus
  • Inspirasi
  • Internasionalnews
  • Opini
  • Sainstekno
  • Sosok
  • Tokoh

Site Navigation

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

ACADEMIAMU

“Berita Academia Nomor Satu Di Indonesia.”

 

“The greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things.”

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif

No Result
View All Result
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Homepage
    • Beranda
    • Advetorial
    • Info Kampus
    • Inspirasi
    • Internasionalnews
    • Opini
    • Sainstekno
    • Sosok
    • Tokoh

© 2021 Portal Berita Media Online Nasional Academiamu ~ Smart Inovatif Inspiratif